PERANG – Instant Buzz ! (Kopi Instant)

PERANG MEMBERIKAN banyak jawaban untuk, setidaknya tercipatanya kopin instan. Perang mempercepat segala sesuatu. Begitu juga dengan kpoi. Keduanya beriringan seperti gula dank rim.

Ide dari kopi instan sebenarnya terjadi jauh debeluk Nescafe berusaha mengambil alih dunia. Dalam persaingan minuman, seseorang atau orang lain berusaha membuat esensi dari kopi untuk ditaruh dalam wadah botol atau kaleng—keduanya dengan alasan praktis, karena pembuatan kopi di abad 19 memerlukan proses yang sangat lama, dan karena terkadang  tidak terdapat peralatan yang memadai. Seiring dengan minuman kopi berubah dari suatu kesenangan menjadi suatu kebiasaan, ketersediaannya secara langsung menjadi suatu hal penting.

Dari sudut pandang pedagang kopi, menjual bubuk kopi daripada biji kopi berarti tidak akan ada orang yang akan menanyakan darimana asalnya. Ketika kopi merupakan bahan yang harus tersedia di toko, masyarakat mulai menyadari perbedaan rasa antara ‘ringa’ dan ‘Brazils’ (sebutan untuk ‘kasar’) dan jika mereka dapat memilih—meski terkadang tidak—antara Mocha atau Java yang berarti ‘halus’. Seringkali kopi diberikan judul yang salah seperti yang diceritakan dibagian 177 dimana asala dari kopi tersebut tidak terlalu penting, kecuali jika kamu beruntung tinggal sebelah pedangan kopi. Seiring dengan jalannya waktu semakin banyak orang memahami cara membeli biji kopi dan memilih untuk membelinya di pedangan yang telah mereka percaya.

Menjual bubuk kopi, dibandingkan dengan biji kopi itu sendiri, menghindarkan banyak masalah pelik. Bubuk ini dapat disimpan lama tanpa mengurani kualitasnya. Dan dapat dikonsumsi dimanapun, kapanpun, tanpa menggunakan peralatan khusus.

Jadi sejak awal kopi instan telah dipahami baik oleh para pedagang dan pembuatnya sebagai peluru ajaib yang pada suatu hari nanti dapat melesat menjadi perdagangan yang hebat. Bukan para pencinta kopi yang diincar oleh para pedagan. Orang yang mencitai kopi telah terperangkap dengan cara dimana beli dan bagaimana cara membuatnya. Para pedagang mengincar sejumlah orang yang tidak perduli mengenai kopi, tidak pernah merasakan kopi yang enak, dan hanya menginginkan sensasi kopi

Kopi ‘instan’ yang pertama kali sukses tidak mengandung kopi sama sekali. Dibuat oleh Paterson & Son dari Glasgow di tahun 1876, Camp Coffee mengandung kurang dari lima persen sari kopi dan dua puluh lima persen bunga chicory yang dilarutkan dalam air gula. Berbentuk botol kaca pipih dibungkus dengan label bergambarkan tentara Skotlandia yang mengenakan kilt duduk diluar tendanya, dengan pedang tergantung di kakunya sambil memegang cangkir dan piring. Seorang pembantu Sikh bersorban berdiri disebelahnya memegang nampan yang berisikan sebotol Camp. Latar belakangnya adalah tebing-tebing bersalju dengan spanduk yang berada di puncaknya bertuliskan ‘Ready Aye Ready’. Kalimat yang ada di labelnya bertuliskan ‘Camp Coffee and Chicory Essence’. Dan terdapat kalimat kecil dibagian bawah botol mengenai cara penyajiannya.

Seberapa banyak dari produk ini yang benar samapi ke medan peperangan di India, Afganistan, sudah atau dimanapun tentara Inggris berperang saat itu, masih mengadung banyak pertanyaan—meski banyak yang menganggap jumlhanya banyak karena produk ini tetap ada hingga sekarang (walaupun sekarang digunakan untuk menambahkan citarasa untuk pastry dan kue).

Aku ingat seorang teman lama bercerita ia tumbuh dan menikmati Camp dan tidak merasakan kopi sebenarnya hingga saat ia tiba di Paris ketika remaja. Ia ingat rasa itu dengan penuh perasaan—meski dapat dikatakan hal ini karena kekuatan memori bukan karena rasa yang ditimbulkan secara psikologis. Meski, menurutku dengan gula yang banyak kita dapat menyukai banyak hal.

Terdapat banyak usaha untuk menciptakan solusi kopi yang mengandung aroma dan rasa sama seperti aslinya—sebuah ketidakmungkinan, tentunya, karena akses ke kopi alami masih terbatas, dan bagi sebagian orang tidak dapat memberikan perbandingan. Akan tetapi, kopi merupakan minuman yang berharga; jika tidak diolah dengan baik maka akan terasa pahit. Dibairkan terbuka maka akan menguap, maka kopi harus segera minum setelah dihidangkan. Jadi mendapatkan rasa yang pas untk dinikmati di lain waktu merupakan suatu tantangan sendiri.

Terobosan baru dalam bidang iklan datang pada tahun 1901, di Pan American Exhibition yang diselenggarakan di Buffalo, New York, dimana sebuak kios kecil dipersiapkan oleh Kato Coffee Company. Selebaran dibagikan dimana dialamnya tercantum ‘Satori Kato adalah nama peneliti asal Jepang yang telah bertahun-tahun melakukan penelitian dan telah menemukan proses kondensasi dan pemurnian kopi. Penemuan berharga ini didukung oleh demonstrasi singkat pada kios di Sec. J. Liberal Arts Building’.

Ahli kimia warga Amerika keturunan Jepang, Dr. Satori Kato, telah mengembangkan proses dehidrasi untuk menciptakan kopi yang sesuai dengan keinginan para importir kopi asal Amerika. Hasil penelitian ini pertama kali dipertunjukan pada pameran di Buffalo, dan kemudia dipasarkan melalui Chicago dibawah perusahaan yang dipimpin oleh Dr. Kato.

Setelah membaca iklan Kato Coffee Company untuk memperkenalkan produknya ini sangat menarik dan penuh arti. Iklan kopi pada masa awal diharuskan menyebutkan hal yang sebenarnya, karena masyarakat pada masa itu belum mengerti mengenai pesan yang terselubung kecuali pesan tersebut dihadirkan dengan gambar penuh warna.

Informasi promosi dari Kato Coffee mulai memfokuskan pada nilai ekonomisnya, dengan mengklaim bahwa proses ekstraksi mereka menggunakan seperdelapan dari isi berat kopi—tapi menegaskan bahwa isi sedikit ini berisikan lebih banyak dari jumlah kopi yang harusnya dipergunakan ketika membuat kopi. Serta, kadar gula yang sedikit (masih termasuk bahan mahal pada 1901).

Kemudian mereka menggarisbawahi mudahnya penyajian: ‘Kato Coffee tidak memerlukan pemanggangan atau penggilingan. Secangkir kopi murni, segar dan enak tersedia untuk anda dalam waktu singkat. Tidak memerlukan ahli dalam pembuatannya; seorang anak dapat membuatnya sama seperti orang dewasa’. (Perhatikan kata-kata yang berurutan ini: ‘murni, segar, enak’. Kejujuran dalam iklan bukanlah suatu masalah pada tahun 1901 dibandingkan dengan sakaran ini.)

Salah satu keunggulan lain yang mereka tekankan adalah tidak berantakan—sebuah kekhawatiran yang dimiliki oleh para istri ketika itu atau setidaknya yang dibayangkan oleh pembuat iklan perusahaan ini: ‘Kato Coffee dapat dibuat dengan bersih. Dapat dibuat di dapur anda atau ketika berada di acara social dengan teman anda. Kopi ini tidak meninggalkan sampah’.

Masalah kesehatan juga diangkat pada iklan ini. Kato menjamin konsumen mereka bahwa bahan-bahan berbahaya yang terkandung di dalamnya telah dihilangkan seperti akar kopi yang tidak dapat dicerna, lemak merugikan yang dapat memicu terjadinya Dyspesia, dan terutama kafein yang dikenal di dunia medis sebagai—Musuh Utama dari Jaringan Syaraf.

Dan siapa yang dapat menikmatinya? Kato Coffee membeberkan bahwa produk mereka “akan terbukti berguna untuk para Pembantu Rumah Tangga, Ilmuwan, Tentara atau Pelaut, Penjelajah, Pelancong, Pemburu, dan untuk Kehidupan Berkemah, juga, untuk seluruh pecinta dan penikmat kopi di seluruh dunia, produk ini sangat mudah untuk dipersiapkan.’

Bagaimana?

Akan tetapi, kios dimana Kato Coffee Company mempertunjukan dunia instan baru tidak jauh dari sudut yang ditempati oleh perusahaan Puerto Rico yang mempertunjukan beberapa biji kopi Arabica yang mereka ditumbuhkan di pegunungan Yauco oleh para imigran Corsica sejak awal tahun 1800. Presiden William McKinley, seorang pecinta kopi yang dikenal oleh teman dan sahabatnya sebagai ‘Coffee Bill’ berhenti di kios Puerto Rico sesaat sebelum dia dibunuh. Entah apakah sejarah Amerika akan terulang jika saja McKinley mencoba kopi Kato.

Pada 1910 perusahaan kopi instan didirikan oleh seorang imigran Amerika Serikat asal Belgia dengan nama popular yaitu George Washington. Washington telah mempelajari Kimia di Jerman pada University of Bonn dan telah tinggal di Guatemala dimana ia telah menjalin kontak dengan komunitas penanam kopi asal Jerman. Setelah mendapatkan proses mebuat kopi secara instan, Washington menyiapkan sebuah  toko di New York City.

  1. Washington Coffee Company merupakan perusahaan besar yang menggambarkan gambaran “Amerika yang sebenarnya” daripada perusahaan oriental, meski Kato telah tinggal di Amerika lebih lama daripada Washington. Tapi tema ‘Amerikanisme’ sering kali diartikan sebagai kaum kulit putih, Kristiani, Eropa memerankan peranan penting dalam pencapaiannya saat Perang Dunia I—walaupun pada tahun 1914 faktor keturunan Jerman dari Washington menjadi masalah jika diketahui oleh public (meski memakai nama “George Washington” merupakan penyamaran yang baik).

Akan tetapi, Perang Dunia I memberikan G. Washington Coffee sebuah kesempatan besar untuk menyebarkan produknya dalam komunitas tertentu yang terdiri dari tentara yang menderita dimana mereka akan menikmati rasa dari kopi dengan sangat puas: kopi ini membuat mereka sadar untuk menghargai horror dari perang yang terjadi.

Washington Coffee menggunakan keunggulan mereka sebagai keuntungan yang baik setelah para pasukan perang telah kembali dari medan perang, tidak memiliki pekerjaan tapi penuh rasa kemenangan, meneriakan slogan-slogan pada poster iklan mereka : ‘Pergi Perang dan Pulang Lagi!’ Menyediakan kebutuhan bagi para tentara di parit karena Pemerintah inginkan yang terbaik bagi mereka. Sekarang karena kalian telah pulang, kalian patut mendapatkan yang terbaik!’.

Salah satu cara yang digunakan oleh G. Washington untuk meyakinkan masyarakat membeli kopi meski mendapat pilihan lain adalah sedikit gambaran mengenai modernism. Kopi instan merupakan gelombang masa depan dan masa depan itu sekarang. Secara mengejutkan, mereka mencantumkan metafora dari gula: ‘Apakah kamu tahu bahwa terdapat jutaan manusia berhenti menggunakan biji mentah? Dulu semua orang menggunakan gula aren secara langsung—tanpa disuling—saat ini semua orang menyulingnya, gula bubuk putih. Dengan cara yang sama, jutaan orang telah berhenti menggunakan biji kopi yang berantakan—dan sekarang mereka menggunakan kopi yang telah disuling, dibuat oleh Mr. G. Washington dengan  menggunakan proses penyulingan yang special. Kopi G. Washington lebih baik daripada biji kopi seperti gula putih daripada gula aren’.

Setelah proses penyulingan, gula ini dijual ke publik lebih baik dari gula aren karena berwarna putih, dan putih adalah warna yang melambangkan kemurnian dan mudah larut. Kombinasi dari kemurnian, mudah larut dan modernisasi menjadi daya tarik sendiri untuk meyakinkan warga Amerika untuk terbiasa dengan instan. Hanya terdapat satu masalah—rasanya tidak enak.

Memerlukan kombinasi lebih dari dua kejadian untuk membuat kopi instan sebagai konsumsi yang biasa: masalah yang terjadi di Brazil dan dunia yang sedang berperang.

Krisis ekonomi tahun 1929 yang dihadapi Brazil membuat menumpuknya kopi di gudang, tidak terjual dan tidak diminati. Sebagai langkah terakhir, jutaan biji kopi dibakar atau dibuang ke laut sebagai antisipasi semakin menurunnya harga kopi di musim panen berikutnya. Banyak kekayaan yang terbuang di perdagangan kopi. Tapi di Swiss, bencana dunia ini dipandang sebagai kesempatan  emas.

Nestle telah lama ingin mengembangkan kerajaan komoditas mereka yang terdiri dari susu formula dan coklat. Perusahaan ini yang berbasis di Swiss memiliki pabrik di Amerika Serikat, Inggris Raya, Jerman, dan Spanyol adalah salah satu pencetus penggunaan laboratorium penelitian yang professional dan terorganisir dalam mengembangkan teknologi baru untuk industry makanan.

Perang Dunia I menciptakan permintaan besar atas produk susu bubuk yang dengan cepat dapat disediakan oleh Nestle. Tapi pada masa terakhir peperangan dan kembalinya susu segar membuat keuntungan mereka merosot tajam, sehingga membuat perusahaan ini ingin mengembangkan produk baru untuk memenuhi pasar pasca perang.

Krisis di Brazil serta analisa Nestle terhadap trend kopi global, meyakinkan mereka terdapat prospek yang cerah untuk berinvestasi pada kopi yang murah jika mereka dapat menciptakan sesuatu yang melibatkan ilmuwan-ilmuwan hebat—untuk menciptakan bentuk kopi bubuk yang terasa enak.

Setelah sebelumnya berhasil mengembangkan teknik untuk mengeringkan susu yang dijadikan susu coklat bubuk dan susu bubuk lainnya, sepertinya mereka memiliki teknologi yang memadai. Akan tetapi kenyataannya lebih sulit dari yang mereka bayangkan.

Perusahaan menugaskan ahli kimia muda, Max Morgenthaler, untuk memimpin proyek menciptakan bubuk kopi yang merek harapkan bisa menjadi standar baru. Setelah tujuh tahun mengalami kegagalan, , Morgenthaler akhirnya dapat mendapatkan hasil dengan cara mengeringkan kopi cair dibawah tekanan yang tinggi sehingga menciptajan bubuk yang kaya rasa dan kopi instan ini pertama kali ditemukan. Pada bulan April 1938, akhirnya Nescafe diperkenalkan—tepat sebelum Perang Dunia II. Jadi sekali lagi, adalah perang dan tentara Amerika yang menjadi pemicu terjadinya kopi bubuk instan, tahap 2.

Nescafe menjadi kopi instan pertama kali yang berhasil didistribusikan dalam skala global. Karena kantor pusat berada di negara netral Swiss, Nestle dapat menghindar dari embargo dan boikot dari negara manapun. Terlebih lagim perjanjian yang didapatkan Nestle dengan Brazil membuat biji-biji kopi murah itu dapat ditaruh di gudang, dijual kapanpun, dan menjadi pijakan untuk rantai komoditas yang dibawah kendali perusahaan selama beberapa tahun.

Dampak dari peluncuran kopi bubuk sebagai komoditas utama dalam skala global membuat kelebihan produksi Arabica di Brazil, tapi Robusta adalah yang digemari untuk produk instan.  Fakta ini membuat jenis kopi yang dipandang sebelah mata ini menjadi terkenal dan secara mengejutkan mengusai pasar. Setelah masyarakat menerima kopi isntan sebagai alternatif laindalam menikmati kopi, hal ini juga ditandai dengan semakin tinggi dan efisiennya suatu perusahaan maka akan semakin tinggi keuntungan yang di dapatkan karena perusahaan seperti ini dapat memproduksi dalam skala besar.

Disisi lain, kopi instan, apapun rasa yang akan kita rasakan, menolong terbukanya pasar ke tempat dimana kopi jarang dikonsumsi—seperti wilayah pedesaan di China. Globalisasi konsumsi kopo ini menelurkan area produksi di negara-negara seperti Vietnam.

Kopi instan dipicu oleh adanya kebutuhan dan keinginan: kebutuhan industry kopi pada saat ini dan pencarian tolak ukur baru; dan keinginan untuk membuka lahan baru. Negara-negara baru memerlukan sensasi langsung dan sesendok bubuk berwarna coklat diaduk bersama air panas dituang kedalam berbagai bentuk cangkir akan menghadirkan rasa nyaman. Tapi bagi mereka yang terbiasa dengan bahan buatan manusia ini tidak akan menerima citarasa dari kopi yang sesungguhnya. Kopi instan serta kentang tumbuk dan mie instan dalam wadah, secara tidak langsung menandakan perang antar generasi. Tidaklah mengherankan bahwa anak-anak dari jaman revolusi budaya lebih tertarik membuat kopi secara alamiah.

 

A People’s History of Coffee and Cafes

Bod Binderman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *