Kopi – perjalanan dan asal mula (Origins of Coffee)

Kopi – perjalanan dan asal mula  – MUSIM PANAS 1714 DI PARIS—pada Minggu sore yang berangin, Jean de la Roque bergegas ke Dermaga St.Bernard menuju Jardin des Plants. Ia diundang oleh Monsieur de Jussien, kepala perkebunan untuk menyaksikan sesuatu yang hanya pernah dilihat oleh segelintir masyarakat Eropa. Sesuatu yang special sehingga membuatnya sangat berantusias sampai tangan gemetaran dan hati yang berdegup kencang.

Apakah yang membuat rasa penasaran yang sangat besar itu dirasakan oleh orang Paris pada abad 18 itu? Jawabannya mungkin akan mambawa kita jauh ke belakang pada masa sepertempat millennium lalu. Pada saat itu kita akan melihat Paris sangat berbeda dari sekarang—paris yang masih berada di jaman kuno. Bukan kota besar dengan jalanan simetris, kota ini pada saat itu memiliki jalanan sempit dan kotor, rumah kuno yang belum dihancurkan oleh rencana pengembangan seperti yang dibayangkan Napoleon. Namun kota ini berada di ambang perubahan. Dimana satu sisi berada di dunia lampau, dan sisi lain berada di era modern.

Perbedaan seperti ini dapat mengaburkan pandangan seseorang, terutama pandangan orang yang hidup jauh sebelum masa kita sekarang.  Telah melihat segala perubahan dan mengkonsumsi apa yang telah kita makan, indera kita telah terbiasa dengan 17 sensasi yang ada dan tidak aka nada perubahan lainnya—setidaknya itu yang kita duga.

Akan tetapi, dua setengah abad lalu, apa yang akan disaksikan oleh Jean de la Roque sangat mengesankan baginya. Ditempat lain, pada Hortus Medicus di Amsterdam yang telah ternama, telah mencapai kemajuan—mencangkok pohon kopi di daratan Eropa.

Bagi Jean de la Roque melihat kemajuan hortiluktura ini merupakan obesesi yang terpendam sejak masa kecilnya. Telah lama ia terpukau dengan cerita dari ayahnya yang telah berpergian ke Constantinople pada tahun 1644 dan kemudian ke Levant dengan tidak hanya membawa pulang biji kopi pulang untuk pertama kali di rumahnya di Marseille tapi juga membawa benda-benda yang digunakan untuk menjamu tamu di Turki—cangkir kecil yang berasal dari China, serbet sutera kecil yang dijahit dengan emas, sendok perak dan nampan perak.

Kopi menimbulkan lebih dari sekedar penasaran sebelum ayah la Roque kembali ke Perancis, dimana ketika itu kopi hanya disajikan di ruang keluarga yang kaya, yang didapatkan melalui perjalanan atau perdagangan. Tapi pada tahun 1699 sesuatu hal terjadi yang membuat bahan baku ini sangat dibayangkan dan menggema di pikiran la Roque.

Ketika bulan Juli di tahun itu saat utusan dari Sultan Mohammed IV dating ke Paris dengan sekarung biji yang aneh.

Pada masa itu, Paris telah berada di bawah pengaruh Turkomania seiring dengan Kerajaan Ottoman bergerak masuk ke Eropa, hingga akhirnya mereja sampai di gerbang Wina. Cerita mengenai para pembantu yang berpakaian berwana perak dan ungu, melebihi kebutuhan erotis dan kekayaan majikan mereka. Tetapi adalah Constantinople, raja kuno dari Byzantium, yang menimbulkan imajinasi kaum Gallic dengan perasaan untuk memiliki sutera yang berkilau dan bumbu dan seluruh benda-benda eksotis yang menyebar mulai dari Yaman ke Persia hingga ke Hungaria.

Saat Utusan Sultan pergi pada bulan Mei tahun itu. Kebiasaan mengkonsumsi kopi yang ia perkenalkan kepada masyarakat Paris telah menjelma menjadi kebudayaan baru. Orang-orang mulai mengirimkannya dari Marseille atau membuat perjanjuan rahasi dengan kapten-kapten kapal yang berpergian ke Levant. Hingga pada masa sebelum 1672 dimana seorang pengusaha Armenia, yang biasa dikenal dengan ‘Pascal’ membuat perdangan komoditi ini secara bebas, pertama pada pasar utama Saitn Germain dan kemudian pada toko kecil yang berlokasi di Pelabuhan de l’Evole dimana ia menjual kopi dengan harga dua sol enam derniers (atau sekitar 2 penny Inggeris) per piring.

La Roque kemudian akan menulis mengenai pria kecil yang pada masa itu berkeliaran minuman aneh ini di jalan-jalan kota Paris. ‘Dia mengenakan selendang kecil dengan menyelipkan sendok ketika ia akan mempersiapkan ketel kopinya. Ditangan yang lain ia memegang termos penuh dengan air dan didepannya ia meletakan seluruh perlengkapan yang dibutuhkan’.

Orang ini dikenal sebagai ‘Candiot’. Sepertinya ia pertama kali muncul bersama temennya, seorang anak muda bernama Joseph, yang berasal dari Levant untuk mencari peruntungan di Paris.

Tetapi itu terjadi di generasi sebelumnya. Pada saat la Roque bergegas menuju jalanan pada suatu hari di musim panas 1714 menuju Jardin des Palnts, hampir tidak terdapat kota dalam ukuran apapun yang memiliki satu atau lebih kedai kopi.  Dengan sedikit waktu kedai-kedai ini mulai bermunculan dari suatu wilayah ke wilayah lainnya. Kopi telah berubah dari konsumsi eksotis menjadi komoditas yang penting dengan berkarung-karung biji mentah datang ke pelabuhan setiap harinya.

Kopi telah tiba di masa kejayaannya. Apa yang menjadi bahan pertukaran skala kecil empat puluh tahun sebelumnya telah berubah menjadi perdagangan tingkat atas. Dan para pengikut Ottoman yang hingga saat itu menguasai perdagangan melalui pelabuhan Laut Merah mulai menyadari dengan cepat perubahan ini—seperti ketika mereka mencari alternatif lain pada kala monopoli rempah-rempah dikuasai oleh Belanda.

‘Para pengusaha dari Mesir.’ Dikeluhkan oleh la Roque, ‘telah mempersulit komoditas itu untuk di bawa, ini telah menyebabkan kelangkaan dan menaikan harga hingga enam atau tujuh haucks per pound. ‘Hauck itu sama sekitar tiga pence Inggris, dan meski terlihat kecil pada inflasi kita saat itu, masalah ini merupakan tantangan tersendiri bagi para pengusaha untuk memikirkan kembali keputusan mereka agar mencari alternatif sumber persediaan yang lain.

Permasalahannya adalah alternatif pengganti tersebut tidak terdapat di pelabuhan Laut Merah—kecuali disatu tempat. Itulah sebabnya mengapa pembiakan tanaman yang akan dilihat oleh la Roque menjadi hal yang sangat penting.

‘Kita pergi kesana untuk melihatnya dan mengobservasinya dengan penuh kegembiraan; tanaman itu diletakan dalam wadah dan diletakan didalam mesin yang terbuat dari gelas, dengan bungkusan dari Peru disebelahnya.’ Tulisnya. ‘Orang Belanda yang memiliki tanaman dibawah pengawasannya datang dari Marly ke Royal Garden. Dia mengatakan kepada kamu bahwa terdapat tanaman jenis ini banyak tertanam di Hortus Botanicus di Amsterdam sepanjang luas bangunan tersebut. Tanaman besar ini berasal dari Arabia, dibawa sejak usia dini dan di dikirimkan ke Jawa. Setelah beberapa akhirnya sampai di Belanda hingga tumbuh sempurna. Buah dari tanaman ini ditanam di Taman Amsterdam dan menghasilkan berbagai bibit tanaman, beberapa diantaranya telah berbuah sejak berusia tiga tahun. Seluruh hasil tanaman itu kita kirim ke Raja, menurut orang Belanda itu.’

Pengikut Ottoman—dari Belanda—yang pertama kali mengembangkan bibit itu di luar tanah airnya. Sekarang telah diserahkan kepada Perancis. Apa yang disaksikan oleh la Roque di Jardin des Plants pada hari Minggu special itu merupakan pohon Induk. Dan dari pohon itu, bibit-bibit selanjutnya terus berkembang, tumbuh di Karibia hingga Guyana Perancis dan menjadi pencetus perkebunan untuk kerajaan kopi di Amerika Tengah dan Selatan.

Mungkin sejarah pertumbuhan kopi di kebun Eropa tidak terlalau diperhatikan saat ini, terutama di masa kini dimana terbiasa dengan percobaan di laboratorium. Akan tetapi diperlukan lebih dari alat percobaan untuk membuat pohon kopi tumbuh di luar habitat aslinya, terlebih tanpa pengetahuan mengenai tanah dan pupuk seperti yang kita miliki sekarang. Factor terpenting dari tukang kebun Belanda yang harus dihadapi pada saat itu adalah bagaimana menyempurnakan tumbuhan itu sangatlah mengesankan.

Agar dapat memahami apa yang terjadi dalam pencapaian ini kita harus melihat kembali hubungan antara manusia dan tumbuhan pada abad 17 dan 19—sebuah hubungan yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan hubungan kita dengan sayuran saat ini.

Sebelum masa revolusi industry dan perubahan kimia yang pesat, tumbuhan adalah dasar untuk obat-obatan dan cairan bagi para dokter dan ahli pengobatan alami dalam memberikan resep pengobatan. 22 oahli theologist pada masa itu masih dapat menerima anggapan dimana seluruh tanaman berasal dari Kebun Surga dan ditempatkan oleh Tuhan utnuk menjaga kelangsungan hidup manusia, Kepercayaan ini berdasarkan teori kuno ‘ciri khas’ yang mengatakan bahwa tiap tumbuhan atau tanaman memiliki tanda khusus baik dari warna dan bentuk, serta efeknya masing-masing. Banyak ahli pengobatan herbal percaya bahwa tanaman dapat ‘dibaca’ dan jika diterjemahkan dengan benar dapat menyembuhkan penyakit.

Hal ini merupakan kepercayaan selama masa Abad Pertengahan dimana Tanaman Surga berhasil selamat dari banjir dan selama masa abad 15 dan 16 perjalanan eksplorasi membuat tanaman ini menjadi prioritas utama selain pencarian Cawan Suci serta Air Terjun Keabadian. Tapi pada akhir abad 17 pendapat ini dinilai kaku setelah dunia mulai terpetakan dan filsuf pragmatis menjadi kekuatan baru dalam menjelaskan segala hal dibandingkan mitologi Gereja.

Namun, ide dari Tanaman Surga tetap terjaga meski keberadaannya diragukan. Dan seiring dengan berkembangnya waktu manusia cenderung berpikir untuk memulai segala sesuatu dengan baru melalui dikumpulkannya bibit-bibit dan proses pembuahan.

Penemuan kembali Surga menjadi obsesi tersendiri diantara pedagang-pedagang yang berkeliling dunia, kemungkinan disebabkan oleh penjarahan mereka atas dunia baru, dan terlebih lagi karena mereka memahami kekuatan ekonomi yang baru terbentuk, ilmu pengetahuan sebagai kekuatan utama dan perdagangan sebagai simbol kekayaan.

Sehingga kapal-kapal perdagangan selalu membawa ahli tanaman yang terlatih diiama tugas mereka adalah untuk menemukan jenis tumbuhan baru, menggamarkan dan mengkodekan, dan semoga dapat membawa contoh specimen tersebut ke taman botanical yang telah berkembang di hampir seluruh universitas di kota-kota seperti di Inggris, Italia dan Perancis—meskipun taman terbaik, dimana mampu menampilkan berbagai jenis tanaman yang sudah dikembangkan, hanya dimiliki oleh Belanda.

Sebagai contoh di Leyden yang mempertunjukan semua jenis tanaman yang terdapat di seluruh Eropa. Taman atau kebun yang ada disini sudah seperti ensklopedia botanical yang berisikan contoh-contoh penelitian dari seluruh penjuru dunia. Kaum akademis, kaum pengobatan herbal dan ahli medis menunggu tiap hasil penemuan yang berasal dari tempat ini. Dan tiap jenis tanaman baru akan dikembangkan dan ditempatkan di tempat yang sangat modern yaitu Hortus Medicus di Amsterdam.

Kemampuan dari kepala perkebunan, seperti Hendrick Gerritsz dan Cornelis Vos keduanya warga belanda, untuk selalu menjaga koleksi mereka denga baik sangatlah memukau. Kesulitan yang dihadapi dalam menumbuhkan kopi mulai dari bibit menunjukan tingkat kesulitan yang akan dikembangkan untuk generasi selanjutnya, belum lagi dengan 24 juta tanaman lainnya.

Kelangsungan hidup untuk biji kopi relatif singkat dan bertumbuhnya kecambah mengandung resiko yang besar. Kehangatan tanah ialah factor penentu, dengan suhu optimal berada pada 27.7 derajat Celsius. Pembibitan melali cangkok juga sama sulitnya dan memerlukan pencahayaan maksimal dan tingkat kelembaban mendekati 90%. Pertumbuhan tanmana ini bisa memakan waktu tiga sampai empat bulan.

Harus selalu diingat bahwa tidak terlalu sulit untuk memahami  mengapa berbuahnya tanaman kopi di taman kota Paris merupakan hal yang penting. Yang masih belum jelas adalah mengapa hal ini menjadi penting bagi seseorang yang tidak berkepentingan sehingga membuatnya terburu-buru ketika tanaman ini berkembang.

Kemenarikan dari hari hari Minggu itu adalah kopi—setidaknya bagi la Roque. Obsesinya terlalu besar sehingga membuatnya menulis buku tentang hal itu; yang paling menjelaskan mengenai kopi ketika itu.

Hal yang menarik bagi la Roque adalah asal-muasal dari kopi tersebut, terutama disebabkan oleh kenangan masa kecilnya dan penggunaan peralatan mewah yang dibawa dari Turki oleh ayahnya. Ia telah menyaksikan perubahan kopi mulai dari minuman dengan mitos, yang dipercayai oleh pandangan hidup masyarakat Levant, berkembang menjadi konsumsi umum, yang secara tidak langsung merubah kehidupan social masyrakat.

Dengan ditemukannya minuman ini, seperti dikatakan oleh Montague sebagai pelepasan pikiran dan jiwa, berkaitan dengan masa periode 25 tahun perubahan yang terjadi. Ahli sejarah Perancis yang ternama Roland Mousnier bahkan mengatakannya sebagai ‘abad penuh krisis yang mempengaruhi seluruh manusia untuk menggunakan seluruh ketidakpastian yang ada dalam pikiran dan kepercayaan.

Salah satu pengamat mencatat ‘seluruh dunia bergetar’. Dan tentunya orang yang ada pada masa itu jelas menolak anggapan ini. Perancis telah menyaksikan lebih dari 1000 peperangan selama masa abad 17 dan para ahli sejarah menemukan pola yang sama dengan pemikiran ini.

Beberapa teori mengemuka untuk menjelaskan mengapa abad ini sangat istimewa. Para pemuka agama mengatakan pergerakan ini sebagai tanda dari Tuhan, sebagai peringatan atas akal licik mereka. Ahli lainnya berpendapat bahwa kekuatan perubahan ini dipengaruhi oleh bintang. Ahli astronomi modern saat ini mungkin berpikir bahwa pendapat mereka benar.

Antara tahun 1645 dan 1715, keadaan langit menurut catatan pada masa itu, memiliki beberapa kejanggalan ketiadaan titik matahari. Dan para pengamat dari Skandanavia hingga Skotlandia memperhatikan ketiadaan secara misterius Cahaya Utara, yaitu Aurora Borealis.

Kedua fenomena ini merupakan indikator energy matahari. Cahaya Utara disebabkan oleh partikel dari matahari memasuki atmosfer bumi, dan titik matahari merupakan indikator adanya perubahan dalam medan magnetic matahari.

Melihat berkurangnya satu persen dari seluruh radiasi matahari dapat menyebabkan turunnya sati derajat centrigrade pada temperature musim panas, yang dapat menyebabkan turunnya musim penanaman hingga tiga atau empat minggu serta makin singkatnya perkembangan tumbuhan, hal ini tidak mengejutkan ketika terdapat fakta yang muncul dimana 90% dari total populasi sangat bergantung pada agrikultura dan tingkat pekerjaan yang menjadi sedikit. Akibatnya, populasi Eropa antara tahun 1625 dan 1650 turun sebesar dua puluh persen.

Secara mengejutkan, masa ini adalah pertama kali kopi memasuki Eropa. Apakah mungkin ketertarikan la Roque terlibat dengan kejadian ini? Atau mungkin ia tidak menanggapnya sebagai ketidaksengajaan sama sekali.

Tahun 1714 la Roque berada di puncaknya. Di masa lampaunya dunia terbengkalai oleh kelaparan, penyakit, ketidakpastian. Setelah masanya adalah generasi baru Eropa yang ditandai dengan pertumbuhan pasar komoditas dan bursa saham, kerajaan yang dibangun melalui perdagangan tanaman, dan bertumbuhnya kedai-kedai (kafe) kopi diseluruh benua.

Bagi kekuatan baru yang baru bermunculan—Belanda, Inggris dan Perancis—kekayaan baru berasal dari perkebunan: tebu, kapas dan tembakau. Dan sekarang dapat ditambahkan dengan kopi, sebuah minuman yang menggerakan mesin perekonomian—minuman yang sangat dikagumi la Roque dan nampaknya sangat berpengaruh pada era baru ini.

Tidak terlalu mengherankan alasan mengapa la Roque berusaha sangat keras untuk menjelaskan asal tumbuhan ini, seakan-akan cerita ini memberikan sedikit penjelasan terhadap masa ini. Tetapi sejarah mengenai kopi tetaplah tidak jelas dan rancu sehingga la Roque, seperti dalam cerita ini mengandalkan cerita pihak ketiga. Apa yang ditemuinya adalah betapa sedikitnya pengetahuan mengenai ini—setidaknya di dunia Barat. Dan apa yang diketahui di dunia Timur masih suatu misteri.

A People’s History of Coffee and Cafes

Bod Binderman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *